Jumat, 06 Mei 2016

MEMAHAMI MASALAH AKHLAQ



MEMAHAMI MASALAH AKHLAQ
             Untuk memenuhi tugas mata kuliah  aqidah akhlaq di sekolah dan madrasah
         Description: download


Dosen Pembimbing   : Dr. Abdul Madjid, M.Ag
Disusun oleh :
Novenalia Soviandarin                      (20140720012)
Rahma Mulia Parahita                     (20140720014)
Muhammad Azis fajri                       (20140720027)
Hidayatun Nisa                                  (20140720030)


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
Tahun 2015
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP 1)
Satuan Pendidikan         : SMA
Kelas/semester             : X / 1
Mata Pelajaran              : Pendidikan Agama  dan  Budi Pekerti
Topik                            : Memahami masalah akhlak
Waktu                           :  

A.      Kompetensi inti SMA Kelas X
1.       Menghayati dan mengamalkan  ajaran agama yang dianutnya
2.       Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, ramah lingkungan,  gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan pro- aktif) dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa alam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan   alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
3.       Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan  wawasan kemanusiaan,  kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
4.       Mengolah,  menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak  terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri,  dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.

B.     Kompetensi Dasar
2.1 Melaksanakan akhlak terpuji dan menghindarkan diri dari akhlak tercela dalam kehidupan sebagai implementasi dari memahami akhlak
3.1 Memahami masalah akhlak, induk akhlak terpuji dan induk akhlak tercela
Indikator:        - Mampu menjelaskan pengertian akhlak
                        - Mampu mengidentifikasi induk akhlak terpuji dan akhlak tercela
                        - Mampu mengemukakan metode peningkatan kualitas akhlak
                        - Mampu mensimulasikan contoh akhlak terpuji dan akhlak tercela

C.     Tujuan Pembelajaran
Melalui kegiatan mengamati, menanya, mendiskusikan, menyimpulkan dan mengomunikasikan, peserta didik diharapkan:
1.      Mampu menjelaskan pengertian akhlak
2.      Mampu mengidentifikasi induk akhlak terpuji dan akhlak tercela
3.      Mampu menjelaskan metode peningkatan kualitas akhlak
4.      Mampu mensimulasikan contoh akhlak terpuji dan tercela

D.     Materi Pembelajaran
1.      Fakta : Adanya akhlak terpuji dan tercela
2.      Konsep :               
-          Pengertian akhlak
-          Induk akhlak terpuji dan tercela
-          Metode peningkatan kualitas akhlak
3.      Prosedur :
-          Demonstrasi akhlak tercela dan terpuji

E.      Metode Pembelajaran
1.      Ceramah
2.      Problem based learning
3.      Diskusi
4.      Demonstrasi

F.      Media, Alat, dan Sumber Belajar
1.      LCD Proyektor
2.      Cuplikan film berkaitan tentang akhlaq
3.      Ringkasan materi akhlaq
4.      Bola plastik

G.     Langkah-langkah Pembelajaran
a.       Pendahuluan (20 menit)
1.      Memberi salam dan memulai pelajaran dengan mengucapkan basmalah dan kemudian berdoa bersama. Memeriksa kerapian dan kebersihan ruang kelas
2.      Secara bersama bertadarus membaca satu surah dal Al- Qur’an
3.      Guru menanyakan materi yang telah dijelaskan pada pertemuan sebelumnya
4.      Guru menyampaikan tujuan dan kompetensi yang harus dicapai(Appersepsi)
5.      Guru memberikan ilustrasi tentang materi yang akan disampaikan
6.      Pembagian kelompok




b.      Kegiatan Inti
Mengamati

- Guru memberikan tugas kepada kelompok siswa untuk mencermati macam induk akhlaq terpuji dan akhlaq tercela melalui tayangan video.
- Guru memberikan tugas kepada perwakilan kelompok(yang dipilih melalui permainan bola) untuk menyampaikan kesimpulan dari tayangan video

Mengasosiasi

Setelah mengumpulkan informasi yang didapat siswa selanjutnya siswa menganalisis di dalam kelompok masing-masing

Menalar

- Mendiskusikan materi demonstrasi yang diperoleh; Dalam kegiatan diskusi guru dan siswa memperlihatkan sikap demokratis, kerja sama, serta sopan santun dalam menyampaikan pendapat dan tidak memaksakan kehendak pada orang lain (Sikap)

Mengkomunikasikan
- Setelah selesai berdiskusi, guru meminta masing-masing kelompok untuk mendemonstrasikan akhlak terpuji dan juga akhlak tercela.
- Setelah satu kelompok selesai mendemonstrasikan, perwakilan kelompok lain memberikan pendapat mengenai penampilan kelompok lain

Menanya
Perwakilan  menanyakan kepada kelompok lain tentang demonstrasi yang dilakukan

c.       Kegiatan Penutup
1. Guru memberikan penguatan terhadap materi yang didiskusikan (kegiatan konfirmasi).
2. Menyiapkan masalah untuk pertemuan selanjutnya.

H.     Penilaian Hasil Belajar









Bahan ajar
AKHLAK
1.      Pengertian Akhlaq
Perkataan akhlak dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab اَخْلأَ قٌ, bentuk jamak kata خُلُقٌ yang secara etimologis berarti budi pekerti, watak,perangai,tingkah laku atau tabi’at (Moh. Daud Ali, 1998: 346).
Menurut Imam Ghozali, Akhlaq adalah: “sifat yang tertanam dalam jiwa yang dapat menimbulkan perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan”. Sedangkan menurut Abdul Karim Zaidan, Akhlaq adalah : “ nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa, dengan sorotan dan timbangannya seseorang dapat menilai perbuatan baik dan buruk, untuk kemudian memilih melakukan ataupun meninggalkannya”. Menurut Ahmad Amin akhlak ialah membiasakan kehendak. Ini berarti bahwa kehendak itu apabila dibiasakan terhadap sesuatu maka kebiasaan itu akan dapat membentuk akhlak.
Menurut Ibnu Maskawaih akhlak adalah :
حَا لُ ا لنَّفْسِ دَا عِيَقٌ لَهَا اِ لَى اَفْعَا لِهَا مِنْ غَيْرِ فِكْرٍ وَ رُ ؤْ يَةٍ
Artinya : Perilaku jiwa seseorang yang mendorong untuk melakukan kegiatan-kegiatan tanpa melalui pertimbangan (sebelumnya).
Sedangkan ilmu akhlak ialah ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh seseorang manusia kepada orang lain, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia di dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa-apa yang harus diperbuat.(Ahmad Amin, 1975:62).
Di dalam kamus Al-Kautsar, ilmu akhlak diartikan sebagai ilmu tatakrama. Jadi, ilmu akhlak ialah ilmu yang berusaha untuk mengenal tingkah laku manusia kemudian member hukum/nilai kepada perbuatan itu bahwa ia baik atau buruk sesuai dengan norma-norma akhlak dan tata susila. (Husin Al-Habsyi, tt: 87). Sedangkan ilmu akhlak dalam The Encyclopedia of Islam dirumuskan: It is the science of virtues and the way how to acquire them of vices and the way how to quard against them ( Ilmu akhlak ialah ilmu tentang kebaikan dan cara mengikutinya, tentang kejahatan dan cara untuk enghindarinya). (Har Gibb,etal,1960:327).
Dari pengertian di atas dapat dirumuskan bahwa ilmu akhlak ialah ilmu yang membahas perbuatan manusia dan mengajarkan perbuatan baik yang harus dikerjakan dan perbuatan jahat yang harus dihindari dalam pergaulannya dengan Tuhan, manusia.
Akhlak secara garis besar terbagi menjadi dua yaitu akhlak terpuji dan akhlak tercela dan munculnya akhlak tersebut didasarkan pada tiga perbuatan utama yaitu Hikmah (Bijaksana), Syaja’ah (Kesatria) dan Iffah (memelihara diri dari perbuatan maksiat dan dosa). Dan diantara akhlak terpuji yaitu Qona’ah, Zuhud, Sabar,Istiqomah,Tasamuh, Kasih Sayang, Pemaaf, Amanah, Bermuka manis (Anisatun), rendah diri (tidak sombong), malu, dan suka menolong. Adapun di antara akhlak tercela (Akhlak Madzmumah) yaitu Iri hati, Dengki, Sombong, Tamak,Egois, Kikir, Dusta, Pengecut, Menggunjing, Mengumpat, Boros, Dhalim, dan perbuatan Keji (Fakhsya’). Dan di bawah ini akan diuraikan sebagian dari akhlak tersebut.
A.    Qana’ah (القناعة)
1. Pengertian Qona’ah
a. Secara bahasa (etimologi), qana’ah artinya cukup.
b. Secara istilah (terminology), qana’ah artinya merasa cukup dengan apa yang dimiliki dan menjauhkan diri dari sifat ketidakpuasan/ kekurangan.
2. Komponen Qana’ah
 Bersifat qana’ah paling tidak meliputi 5 hal yaitu :
a.       Menerima dengan rela apa yang ada.
b.      Memohon kepada Allah rejeki yang terbaik dan halal untuk dirinya dan diiringi dengan ikhtiar yang maksimal.
c.       Menerima dengan sabar akan semua ketentuan Allah.
d.      Bertawakal kepada Allah.
e.       Tidak tertarik oleh segala tipu daya yang bersifat duniawi.
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَ النَّفْسِ
Artinya : “Bukanlah kekayaan itu lantaran banyak harta, akan tetapi kekayaan itu adalah kekayaan jiwa”. (HR. Bukhari-Muslim).
Orang yang memiliki sifat qana’ah akan memagari harta sekedar apa yang berada dalam genggamanya dan pikirannya tidak menjalar keluar dari yang ada pada dirinya. Ia berpendirian bahwa apa yang diperolehnya selama ini merupakan suatu ketentuan dari Allah SWT karena itu tidak pernah merasa akan kekurangan.
وَمَامِن دَآبَّةٍ فِي اْلأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَا
Artinya : Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang member rezekinya”. (QS.Huud:6).
            Orang yang qana’ah akan senantiasa merasa tentram dan merasa berkecukupan terhadap apa yang dimilikinya selama ini. Karena meyakini bahwa pada hakikatnya kekayaan ataupun kemiskinan tidak diukur dari banyak dan sedikitnya harta, akan tetapi terletak kepada kelapangan hatinya untuk menerima dan mensyukuri segala karunia yang diberikan Allah SWT.
Tidak sedikit orang yang secara materi melimpah, tetapi tetap merasa miskin, tamak, serakah dan rakus.
Sifat qana’ah merupakan mesin penggerak batin yang senantiasa mendorong manusia untuk meraih suatu kemajuan hidup yang disesuaikan dengan kemampuan diri. Begitu pula segala gerak langkah dan orientasi hidupnya selalu tergantung kepada Allah SWT.
Untuk menumbuhkan sifat qana’ah tentunya tidak langsung jadi dengan sendirinya, tetapi memerlukan latihan dan pembiasaan-pembiasaan sejak dini yang pada akhirnya sifat tersebut akan mendarah daging dalam diri seseorang sebagai bagian dari hidupnya. Dengan demikian hatinya akan senantiasa merasa tentram dan stabil selama di dunia dan senantiasa siap menyongsong kehidupan di akhirat.
اَلْقَنَا عَةُ كَنْزٌلاَ يَفْنِى
Artinya : “Qana’ah adalah simpanan yang tak akan lenyap”. (HR.Tabrani).
Qana’ah bukan berarti menerima apa adanya disertai dengan sikap malas, tetapi harus diiringi dengan usaha keras. Jika usaha tersebut hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diinginkanya, maka harus diterima dengan sikap sabar. Sebaliknya jika usaha tersebut memperoleh hasil yang memuaskan, maka disertainya denga sikap bersyukur kepada Allah SWT.
عَنْ عَبْدِ اللّهِ بْنِ عَمْرِ و بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُولَ اللّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللّهُ بِمَا آتَاهُ
Artinya : Dari Abdillah Bin Amr Ra. Bahwa Rasulullah SAW bersabda : Sunggu beruntung orang yang beragama Islam dan rezekinya cukup, kemudian merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah SWT kepadanya (HR. Muslim)
Dengan sifat Qana’ah ini berarti kita menanamkan pola hidup sederhana yang sehat, karena pada dasarnya orang yang selalu mengejar-ngejar harta kekayaan hatinya tidak akan tentram. Karena itu Rasulullah memberikan tuntutan kepada kita :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُولُ اللّهِ صَلَّى الَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَ آلِ مُحَمَّدٍقُوتًا
Artinya : Dari Abu Hurairah Ra berkata : “Rasulullah SAW berdoa Ya Allah berilah rezeki keluarga Muhammad sederhana (sekedar makan) HR. Bukhori-Muslim.
B.     Zuhud
Zuhud ialah tidak berhasrat terhadap sesuatu yang mudah walaupun kesempatan untuk memperoleh atau mengerjakannya ada. Hal itu dilakukan untuk melatih dan membersihkan diri, dan untuk mendahulukan kepentingan orang lain dari kepentingan diri sendiri. Zuhud bukan berarti tidak berhasrat terhadap sesuatu yang mudah karena tidak mempunyai kemampuan untuk memperoleh atau mengerjakannya. Zuhud juga bukan berarti menundukkan hawa nafsu dan menyiksanya tanpa maksud member kemanfaatan kepada umat atau kepada sekelompok orang. Menundukkan hawa nafsu dengan tujuan seperti itu adalah perbuatan ruhbaniyyah yang diharamkan Islam. Firman Allah:
٣١. يَا بَنِي آدَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ ٣٢. قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللّهِ الَّتِيَ أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالْطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِي لِلَّذِينَ آمَنُواْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
            Artinya :
31. Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan . Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. 32. Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat ." Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. (Al-A’rof: 31-32)
Zuhud adalah sifat utama yang berkaitan dengan sifat-sifat utama lainnya, seperti qona’ah,iffah,sabar,tawaddhu’,syaja’ah,istiqomah. Keinginan yang berlebih-lebihan terhadap kehidupan dunia yang menyebabkan dirinya lupa kepada Allah sangat tidak disenangi Allah, sebagaimana firmanya:
٦٤. وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Artinya : Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.( Al-An-Kabut:64)
Tumbuhnya sikap zuhud pada seseorang melalui suatu proses, setelah orang memiliki iman yang makin tebal dan kuat serta adanya keinginan yang besar terhadap kehidupan akhirat yang lebih kekal. Sedangkan kehidupan dunia ini ibarat permainan belaka dan bersifat sementara, firman Allah :
٣٣. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْماً لَّا يَجْزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ
عَن وَالِدِهِ شَيْئاً إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ
Artinya : “Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah”. (Luqman : 33)
               Zuhud itu dapat dibagi atas tiga tingkatan yaitu:
a.       Derajat pertama(terendah) yaitu menghindari dunia padahal hatinya sangat berkeinginan dan sangat tertarik, tetapi berusaha sekuat-kuatnya untuk menghindarinya dan merasa cukup dengan yang sudah dimiliki.
b.      Derajat kedua yaitu meninggalkan keduniaan karena pandangan rendah dan hina terhadap orang yang rakus dan tamak terhadap harta.
c.       Derajat ketiga yaitu meninggalkan dunia karena zuhud semata karena adanya pandangan bahwa dunia tidak berarti sedikitpun dibandingkan dengan kenikmatan akhirat.
Zuhud merupakan salah satu sifat terpuji, yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang mu’min untuk menyempurnakan ibadahnya. Namun menghindari urusan dunia hanya untuk beribadah dalam arti sempit saja, kurang menguntungkan kehidupan beragama. Peribadatan dalam arti luas menyangkut jiwa raga dan harta yang tersangkut di dalamnya bukan saja hak Allah tetapi juga hak manusia. Zuhud yang hanya untuk beribadah dan hanya mementingkan urusan akhirat, dinilai sebagai egoistis mementingkan diri sendiri. Allah memerintahkan untuk beribadah sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya agar memperoleh kebahagiaan di akhirat kelak, tanpa melalaikan urusan duniawi sehingga dapat mencukupi keperluan hidupnya sendiri, keluarganya dan mampu melaksanakan kewajiban-kewajiban sosial. Silahkan dibuka firman Allah SWT dalam surah Al-Qoshosh: 77
٧٧. وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ
 وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Artinya: 77. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni'matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
A.    Sabar
Sabar ( Tabah ) adalah tahan  menderita untuk menghadapi yang tidak disenangi dengan penuh ridha dan menyerahkan diri kepada Allah. Sabar adalah kemampuan menahan diri, dikala ada godaan untuk tidak marah atau tidak pasrah.
Orang yang sabar ( tabah ) dalam berbagai keadaan akan tetap tenang, selalu ingat Allah dan berserah diri kepada – Nya. Orang yang tabah akan tahan menderita apabila terkena musibah, tidak lekas putus asa dalam menunaikan kewajiban serta meraih cita – cita.
Sabar adalah suatu bagian dari akhlak utama yang dibutuhkan seorang muslim dalam masalah dunia dan agama. Rasulullah SAW bersabda : Artinya : “ Sabar adalah cahaya ( kemenangan yang gilang gemilang )” ( HR. Muslim ). Keuntungan yang dijanjikan Allah kepada orang yang sabar diantaranya sebagai berikut :
إِنَّمَا يُوَ فَّى الصَّٰبِرُوْنَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya : “ Sesungguhnya hanya orang – orang sabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (QS. Az – Zumar : 10 )

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَىِٕمَّةً يَهْدُوْنَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوْاۖ وَكَانُوْا بِىَٔايَٰتِنَايُوْقِنُوْنَ
Artinya : “ Dan diantara mereka itu Kami jadikan pemimpin – pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka sabar. Dan adalah meyakini ayat – ayat Kami”. (QS. As – Sajdah : 24 ).



Sabar Dalam Menunaikan Ibadah
Dalam menunaikan ibadah syaitan selalu menggoda dan nafsu selalu  mengganggu agar perintah ibadah ditinggalkan atau dilalaikan. Tetapi orang yang sabar dapat menangkis dan mengatasinya, tetap mengerjakan perintah Allah dengan baik.
Sabar Dalam Meninggalkan ( Menjauhi ) Maksiat
Menahan diri untuk menghindarkan dari segala perbuatan jahat, dan dari menuruti hawa nafsu angkara murka dan menghindarkan diri dari segala perbuatan yang mungkin dapat menjerumuskan diri ke jurang kehinaan dan merugikan seseorang. Sabar terhadap maksiat, ialah semacam unsur pertahanan yang melawan dorongan – dorongan yang menggoda manusia dalam perjalanan hidupnnya, serta menyingkirkan perbuatan – perbuatan dosa yang terlarang dan tercela.
Sabar adalah pengaruh dari keyakinan yang mendalam dan tujuan yang bulat mencari keridhaan Allah. Untuk memperoleh derajat inilah kita selalu berdo’a sebagaimana yang tercantum dalam Al – Qur’an :
وَمَا تَنْقِمُ مِنَّآ إِلَّآ أَنْ ءَا مَنَّا بِىَٔا يَٰتِ رَبِّنَا لَمَّا جَآءَتْنَاۚ رَبَّنَآ أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنَ
Artinya : “Ya Allah Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri ( kepada – Mu ). (QS. Al – A’raf : 126).

Sabar Dalam Musibah
Musibah yang menimpa diterima dengan sabar dan bertawakal kepada Allah yaitu berikhtiar untuk terlepas dari musibah itu. Hidup ini adalah perjuangan. Perjuangan tidak luput dari ujian dan cobaan yang pasti diberikan Allah. Ujian itu bisa berupa ketakutan, musibah sakit, kelaparan dan kekurangan harta benda atau kematian


ISTIQOMAH
Istiqomah adalah teguh pendirian atau keteguhan berpegang kepada sesuatu yang diyakini kebenarannya, dan ia tidak mau merubah keyakinannya itu dalam keadaan bagaimanapun, baik dalam keadaan susah atau senang, dalam keadaan sendiri atau beramai – ramai dengan orang lain. Sikap istiqomah ini akan memberikan ciri khas kepada pribadi yang melakukannya dan menyebabkan orang lain segan dan menaruh hormat. Sikap istiqomah tercermin dalam firman Allah SWT :
إِنَّ الَّذِيْنَ قَا لُوْا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَٰمُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَٰىٕكَةُ أَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَأَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِى كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ
Artinya : “ Sesungguhnya orang – orang yang mengatakan : “Tuhan kami adalah Allah”, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka ( istiqomah ) maka malaikat akan turun kepada mereka ( dengan mengatakan ) “ Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan gembirakanlah mereka dengan ( memperoleh ) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. ( Al – Fushshilat : 30 )
Ayat tersebut menyatakan bahwa orang yang teguh dalam pendiriannya mengakui hanya Allah sebagai Tuhannya, akan mendapat jaminan ketenangan hidup, hilang rasa takut, sedih, putus asa, dan lain sebagainya. Mereka yakin bahwa segala sesuatu di dunia ini hanya akan terjadi apabila ada izin Alllah SWT. Sikap istiqomah dan semangat perjuangan Nabi dan para sahabatnya itu dilukiskan dalam firman Allah
مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللَّهِۚ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ وٓأَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْۖ تَرَىٰهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَٰنًاۖ سِيْمَاهُمْ فِى وُجُوْهِهِمْ مِّنْ أَثَرِالسُّجُوْدِۚ
Artinya : “ Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang – orang yang bersama – sama dengan dia adalah keras terhadap orang – orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaannya, tanda – tanda mereka tampak pada muka, mereka dari bekas sujud. (QS. Al – Fath : 29).
Begitu pentingnya istiqomah ini, maka Rasulullah ketika ditanya tentang Islam yang tegas dan jelas, maka Rasulullah SAW menjawab yaitu beriman kepada Allah, lalu istiqomah. Sabda Rasulullah SAW :
عَنِ ا بْنِ عُمَرَ وَقَالَ : قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْاِسْلَامِ قَوْلًا لَا اَسْأَلُ عَنْهُ اَحَدًا غَيْرَكَو قَالَ : قُلْ امَنْتُ بِاللّٰهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ ( روامسلم )
Artinya : “ Dari Ibnu Amr r. A berkata :” Hai Rasulullah, katakanlah padaku tentang islam, sesuatu perkataan yang aku tidak menanyakan lagi kepada seseorang selain engkau. Nabi bersabda : “ Katakanlah, aku beriman kepada Allah, lalu istiqomah. (HR.Muslim). 
Isi hadits tersebut sejalan dengan maksud ayat Al – Qur’an surat Fssilat ayat 30, bahwa istiqomah mengandung arti bahwa seseorang berpegang teguh kepada keimanan yang telah diyakininya dalam keadaan bagaimanapun. Dengan jalan inilah jiwa seseorang akan tetap tenang, merasa aman, tidak gentar menghadapi situasi dan kondisi bagaimanapun.
TASAMUH
Pengertian Tasamuh
a.      Secara Bahasa, tasamuh artinya toleransi, tenggang rasa atau saling menghargai.
b.      Secara Istilah, tasamuh artinya suatu sikap yang senantiasa saling menghargai antar sesama manusia.
Sebagai makhluk sosial kita semua saling membutuhkan satu sama lain, karena masing – masing memiliki kelebihan dan kelamaan sesuai dengan potensi yang dimiliki. Dengan demikian perlu ditumbuhkan sikap toleran dan tenggang rasa agar senantiasa tergerak untuk saling menutupi kekurangannya masing –masing. Dari sikap inilah akan terpancar rasa saling menghargai, berbaik sangka dan terhindar dari sikap saling menuduh antar teman.

يَٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَا مَنُوْا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌۖ وَلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِ هْتُمُوهُۚ وَاتَّقُوا اللَّهَۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ۝يَٰأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍوَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُبًا وَقَبَآىِٕلَ لِتَعَارَفُوٓاۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَىٰكُمْۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Artinya : “ Hai orang – orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba – sangka ( kesangkaan), karena sebagian dari purba – sangka itu dosa. Dan janganlah mencari – cari kesalahan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki – laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku – suku supaya kamu saling kenal – mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal ( QS. Al – Hujurat : 12 – 13 )
Ayat diatas juga menjelaskan bahwa sikap toleransi tidak memandang suku, bangsa, dan ras. Karena mereka terpaut dalam satu keyakinan sebagai makhluk Allah di muka bumi. Dihadapan Allah semuanya memiliki hak dan kewajiban yang sama. Adapun yang membedakan mereka dihadapan Allah adalah prestasi taqwa.
Toleransi terdiri dari dua macam yaitu : toleransi terhadap sesama muslim dan toleransi terhadap selain muslim.
Toleransi terhadap sesama muslim merupakan suatu kewajiban, karena di samping sebagai tuntutan sosial juga merupakan wujud persaudaraan yang terkait oleh tali aqidah yang sama. Bahkan dalam hadits nabi dijelaskan bahwa seseorang tidak sempurna imannya jika tidak memiliki rasa kasih sayang dan tenggang rasa terhadap saudaranya yang lain.
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Artinya : “ Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu, sehingga mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri”. (R. Bukhari dan Muslim ).
Sikap toleransi dan baik hati terhadap sesama terlebih lagi dia seorang muslim pada akhirnya akan membias kembali kepada kita yang mana itu banyak memperoleh kemudahan dan peluang hidup karena adanya relasi, di samping itu Allah akan membalas semua kebaikan kita diakhirat kelak.
Adapun toleransi terhadap non muslim mempunyai batasan – batasan tertentu selama mereka mau menghargai kita, tidak menyerang dan tidak mengusir kita dari kampung halaman. Merekapun harus kita hargai karena pada dasarnya sama sebagai makhluk Allah SWT. Bersikap tasamuh bukan berarti kita toleran terhadap sesuatu secara membabi buta tanpa memiliki pendirian,tetapi harus dibarengi dengan suatu prinsip yang adil dan membela kebenaran. Kita tetap harus tegas dan adil jika di hadapkan pada suatu masalah baik menyangkut diri sendiri, keluarga ataupun orang lain. Walaupun keputusan tersebut akan berakibat pahit pada diri sendiri.

قُلِ الْحَقَّ وَلَوْكَانَ مُرًّا
Artinya : “ Katakanlah yang hak sekalipun pahit rasanya”. (HR. Abi Dzar Al Ghifari).



Dalam Al – Qur’an dijelaskan :

يَٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّٰمِيْنَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِ مَنَّكُمْ شَنَىَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوْاۚ اعْدِلُوْا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰۖ وَاتَّقُوْا اللَّهَۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيْرُۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ
Artinya : “ Hai orang – orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang – orang yang selalu menegakkan ( kebenaran ) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali – kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al – Maidah : 8).
Dalam ajaan Islam keadilan ditegakkan tanpa memandang bulu baik rakyat jelata ataupun penguasa harus tunduk kepada hukum dan ajaran Allah SWT jika ia melanggar harus menerima segala konsekuensinya :
إِنَّ الْاِسْلَامَ جَمَعَ بَيْنَكُمَا وَسَوَّى بَيْنَ الْمَلِكِ وَالسُّوْقَةَ فِى الْحَدِّ
Artinya : “ Sesungguhnya Islam itu menghimpun di anatara kamu satu sama lain dan memandang sama antara raja dan rakyat dari segi hukum (sama – sama mempunyai hak dan kewajiban yanga akan di pertanggung jawabkan di hadapan Allah )”. ( Umar bin Khattab ) ( Mulyadi, Drs. Dan Masan Alfat, Drs :  2004, Hal. 4 – 17 ).
Induk-induk akhlak tercela
Iri hati, Dengki (Hasad)
Iri hati atau dengki adalh perasaan benci atau tidak senang kepada seseorang yang memperoleh keberuntungan atau kebahagiaan, serta mengharapkan agar keberuntungan atau kebahagiaan orang tersebut lenyap.
Firman Allah:
إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا ۖ وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ
Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.
QS:Ali Imran | Ayat: 120
Iri hati atau dengki adalah salah satu sifat tercela yang sangat berbahaya, baik bagi orang yang memiliki sifat tersebut, maupun bagi orang lain.Sifat iri hati atau dengki itu ibarat api yang membakar kayu, sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW :
اَلْحَسَدُ يَأْ كُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْ كُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
Artinya : “ Dengki itu dapat makan (menghabiskan) kebaikan sebagaimana api membakar kayu”.(HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)
Seseorang yang memiliki sifat dengki itu sebenarnya sangat tersiksa, karena sebelum maksudnya tercapai, terlebih dulu ia telah membinasakan dirinya sendiri.Ia tersiksa oleh perasaannya sendiri.Betapa tidak, setiap kali ada oorang lain memperoleh keberuntungan, ia pun merasa tidak senang dan benci, hatinya panas seperti api membakar dadanya.
Sifat iri hati atau dengki akan membuahkan berbagai sifat tercela lainnya, seperti : marah, dendam, berdusta, menipu, adu domba, mencuri, bahkan membunuh.Contoh, iblis dengki kepada Adam AS, karena beliau mendapat kedudukan yang mulia di sisi Allah, sehingga iblis tidak mau menghormati Nabi Adam, walaupun itu perintah Allah.Iblis didorong oleh sifat keirihatian dan kedengkian sehingga ia melakukan kemaksiatan yang besar.
Orang yang memiliki sifat iri hati tidak akan memperoleh sesuatupun dari masyarakat, selain dari celaan dan pengucilan.Di dunia ia tersiksa, karena tidak disenangi oleh masyarakat, sedangkan di akhirat pun ia menderita , karena azab Allah.
Sifat iri hati atau dengki dapat ditimbulkan oleh beberapa sebab, antara lain:
1.      Adanya rasa permusuhan dan kebencian
Jika ada orang yang dianggap oleh si pendengki telah menyakiti dirinya, menghalangi maksudnya, maka ia merasa sakit.Apalagi jika ia ingin membalas, tetapi tidak berani, maka timbul rasa dendamnya.Ia berharap agar orang yang dianggap telah menyakiti hatinya atau menghalangi maksudnya mendapat kecelakaan atau penderitaan.
2.      Tidak bersyukur
Orang yang tidak bersyukur, tidak pernah merasa cukup akan nikmat yang diberikan Allah.Ia selalu merasa kekurangan.Terhadap orang yang mendapat rezeki yang lebih besar daripadanya, ia merasa tidak senang.
3.      Perasaan tinggi diri
Orang yang merasa tinggi diri, merasa dirinya lebih terhormat dan lebih mulia daripada orang lain.Jika ada orang yang mengalahkan dirinya, baik harta, kepandaian ataupun kedudukan, maka timbullah sifat iri atau dengkinya.
4.      Kikir atau pelit
Orang yang kikir mudah dihinggapi siifat iri hati atau dengki.Orang yang kikir selalu memikirkan, bagaimana agar hartanya itu bertambah.Mereka beranggapan bahwa membantu orang lain hanya akan mengurangi hartanya.Ia beranggapan pula dengan memberi, orang lain menjadi senang, sedangkan hartanya berkurang.
5.      Malas
Seorang pemalas biasanya juga seorang pelamun.Ia beranggapan hidup senang, tetapi kenyataannya ia tidak memiliki apa-apa, karena malas bekerja.Jika ada orang yang berhasil, ia merasa iri hati dan dengki,.Tidak jarang perampokan atau pencurian dilakukan orang-orang karena sifat iri hati dan dengki.
Sombong (Takabur)
Sombong adalah merasa diri lebih tinggi dari orang lain, baik keturunan, kekayaan, kepandaian, kedudukan, kecantikan atau ketampanan dan sebagainya.Sombong merupakan akhlak tercela.Banyak ayat Al-Qur’an maupun hadits yang menjelaskan tentang betapa buruknya sifat dan sikap sombong itu.
Firman Allah dalm surah Al-A’raf ayat 146:
سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لَا يُؤْمِنُوا بِهَا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ
Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya.
QS:Al-A'raf | Ayat: 146
إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ فَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ قُلُوبُهُمْ مُنْكِرَةٌ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ
لَا جَرَمَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ
Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong.  Ayat: 22
Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.
QS:An-Nahl | Ayat: 23
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina".
QS:Al-Mu'min | Ayat: 60
Sabda Rasulullah SAW :
لَا يَدْ خُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ كِبْرٍ
Artinya: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari sifat kesombongan.”(HR.Muslim)
Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar, Thabrani, dan lain-lain disebutkan:
مَنْ تَوَاضَعَ للهِ رَ فَعَهُ اللهُ . وَ مَنْ تَكَبَّرَوَضَعَهَ اللهُ
Artinya: “Barangsiapa bertawadhu karena Allah, maka akan diangkat derajatnya oleh Allah, dan barangsiapa yang sombong maka kan dijatuhkan derajatnya oleh Allah.”
            Sombong ada dua macam, yaitu sombong lahir (takabur zahir) dan sombong batin (takabur batin).Sombong lahir yaitu perbuatan-perbuatan kesombongan yang dilakukan oleh anggota badan dan jelas terlihat.Sombong batin yaitu sifat kesombongan di dalam jiwa atau hati yang tidak terlihat.
            Orang yang sombong tidak memiliki perasaan untuk mencintai dan menyayangi sesama saudaranya yang mukmin sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.Orabg yang sombong banyak memiliki sifat buruk, misalnya merendahkan orang lain,pemarah, pembohong, khianat, dan sebagainya.Orang yang sombong tidak segan-segan menggunakan hal-hal buruk demi untuk mempertahankan kemuliaannya.
            Rasulullah SAW menjelaskan, bahwa ada dua macam sifat yang merupakan himpunan dari sifat sombong, yaitu menolak kebenaran dan menghina orang lain, sebagaimana sabdanya.

الْكِبْرُ مَنْ بَطَرَ الْحَقَّ وَغَمَطَ النَّا سَ
Artinya : “Sombong adalah (sifat) orang yang mengingkari kebenaran dan menghina orang lain.” (HR. Abu Daud dan Hakim)
Orang yang sombong telah merampas sesuatu sifat yang sebenarnya tidak pantas disandangnya, karena sifat itu hanyalah milik Allah SWT. Perilaku orang yang sombong ibarat seorang budak yang mengambil mahkota raja bertingkah seperti raja yang patut dihormati.Tentu saja sang raja sangat murka terhadap budak yang kurang ajar itu dan menjatuhkan hukuman yang sangat berat.
Banyak hal yang dapat memungkinkan seseorang terjerumus ke dalam kesombongan, antara lain : keturunan, kekayaan harta, kepandaian atau ilmu pengetahuan, kedudukan, kecantikan/ketampanan, kekutan tubuh.Demikian banyak celah yang dapat menjadikan seseorang bersifat sombong.Oleh sebab itu, hendaklah kita memohon kepada Allah agar diberi petujuk ke arah jalan yang benar dan terhindar dari sifat sombong.
Tamak
            Allah SWT kadang-kadang menguji hambaNya berupa kemiskinan , kadang-kadang berupa kekayaan. Ketika diuji berupa kemiskinan, orang adakalanya bersifat qana’ah, yakni menerima apa yang ada sambil terus berusaha, adakalanya bersifat tamak atau loba. Orang yang dierikan kekayaanpun demikian, adakalanya berfoya-foya untuk kesenangan duniawi, adakalanya pula bersifat pelit, enggan mengeluarkan sebagian hartanya untuk kepentingan umat dan tamak, ingin menumpuk hartanya lebih banyak lagi.Pada diri manusia terdapat potensi untuk berlaku tamak atau loba. Kebanyakan manusia merasa kurang terhadap rezeki yang diperolehnya. Ketika mendapat rezeki sedikit ingin banyak, Setelah banyak,ingin lebih banyak lagi,dan seterusnya.
Hal yang demikian pula oleh Rasulullah SAW bersabda :
Artinya : “Andaikata seseorang itu sudah memiliki dua lembah dari emas, pastilah ia akan mencari yang ketiganya sebagaitambahan dari dua lembah yang sudah ada itu.” (HR.Bukhari dan Muslim).
Sifat tamak(loba) ini jika diikutinya akan membahayakan diri orang yang memiliki sifat tersebut, juga berbahaya buat orang lain. Seorang yang tamak hidupnya selalu diperbudak oleh harta. Ia senantiasa berpikir , bagaimana agar hartanya terus bertambah. Untuk menambah hartanya itu segala cara ia lakukan tanpa mempedulikan orang lain. Ia tidak peduli orang lain rugi atau celaka, asalkan mendatangkan keuntungan bagi dirinya.
            Sebenarnya hidup orang yang tamak itu menderita. Kelihatannya senang karena banyak harta, tetapi sesungguhnya ia menderita, karena diperbudak oleh hartanya. Seorang yang tamak hidupnya penuh dengan kegelisahan. Ia sangat mengkhawatirkan hartanya akan berkurang atau dicuri orang. Untuk kebutuhan hidupnya sendiri ia pun pelit menggunakan hartanya, apa lagi untuk kepentingan orang lain.         
            Tamak ibarat penyakit yang berbahaya dalam tubuh manusia. Manusia berpotensi untukterjangkit penyakit tamak itu. Oleh sebab itu, jika sudah terlanjur terserang penyakit tamak, segeralah diobati. Jika belum terkena, penyakit itu hendaklah diupayakan untuk mencegahnya.
            Ada beberapa hal yang dapat diupayakan untuk mengobati dan mencegah penyakit tamak, antara lain :
1.      Yakinkan diri kita, bahwa rezeki itu sudah ditentukan oleh Allah. Rezeki itu pasti akan datang pada diri kita walaupun itu tidak bersifat tamak untuk meraihnya.
2.      Biasakanlah hidup sederhana, sedang-sedang saja, tidak berlebihan. Walaupun kita diberi rezeki yang banyak, hendaklah membatasi diri dalam penampilan hidup sehari-hari, baik dalam hal makanan, pakaian, tempat tinggal dan sebagainya.
3.      Biasakanlah hidup qana’ah menerima apa adanya. Sifat qana’ah membuat hidup kita tenang dan bahagia. Kebahagiaan itu bukanlah semata-mata karena harta, tetapi rasa kepuasan karena mensyukuri nikmat rezeki itu.
Rasulullah SAW bersabda :
Artinya : “kaya itu bukan kaya harta, tetai kaya itu adalah kaya jiwa.”(HR.Muttafaq’Alaih).
4.      Renungilah kehidupan fakir miskin, betapa menderita mereka hidup dalam kekurangan. Dengan demikian, manakala kita mendapat rezeki yang banyak, kita terdorong untuk membantumereka, bukan malah tamak, bernafsu untuk menumpuk harta lebih banyak lagi tanpa mempedulikan orang lain.
5.      Banyak-banyaklah mengingat sejarah hidup rasulullah dan para sahabatnya. Mereka hidup dalam kesederhanaan dan mereka adalah orang-orang yang mulia, baik di masyarakat, maupun di sisi Allah.
1.      Metode peningkatan kualitas akhlak
Dalam keseluruhan ajaran islam, akhlaq menempati kedudukan yang istimewa dan sangat urgen, hal ini berdasarkan kaidah bahwa Rasulullah Saw menempatkan penyempurnaan akhlaq yang mulia sebagai misi pokok risalah islam. Akhlaq merupakan salah satu ajaran pokok agama islam, sehingga Rasulullah pernah mendefinisikan agama islam dengan akhlaq yang baik(husn al-khuluq). Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada nabi, ya, Rasulullah, apakah agama itu? Beliau menjawab”agama adalah akhlaq yang baik”.
Akhlaq yang baik akan memberatkan timbangan kebaikan seseorang nanti pada hari kiamat. Nabi bersabda,”tidak satupun yang akan lebih memberatkan timbangan kebaikan seorang hamba mukmin nanti pada hari kiamat selain akhlaq yang baik.(H.R al-Baihaqi). Dan menurut keterangan ‘Abdullah Ibn ‘Umar “orang yang paling dicintai serta paling dekat dengan Rasulullah pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaqnya.”
Rasulullah Saw, menjadikan baik buruknya akhlaq seseorang sebagai ukuran kualitas imannya, sebagaimana sabdanya:
“Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah bersabda: Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya(H.R at-Tirmizi).
Islam menjadikan akhlaq yang baik sebagai bukti dan buah dari ibadah kepada Allah Swt. Seseorang yang mendirikan sholat tentu tidak akan mengerjakan segala perbuatan yang tergolong keji dan munkar. Sebab apakah arti sholatnya seseorang jika dia tetap saja mengerjakan kekejian dan kemunkaran yang dilarang.
Al-Qur’an banyak mengungkapkan hal-hal yang berhubungan dengan akhlaq, baik berupa peintah untuk berakhlaq yang baik serta pujian dan pahala yang diberikan kepada orang yang mematuhi perintah, maupun larangan berakhlaq yang buruk serta celaan dan dosa bagi orang yang melanggarnya. Hal ini membuktikan betapa pentingnya akhlaq dalam ajaran islam karena akhlaq akan membawa kemashlahatan, kemuliaan hidup dan kehidupan.
2.      Kualitas akhlaq dalam kehidupan
Adapun prinsip umum yang dapat menyelamatkan kaum muslimin dari kebimbangan , kebingungan, dan kegoncangan dalam menghadapi kehidupan. Prinsip ini meliputi, komitmen dengan jalan hidup islam, loyal kepada Allah, RasulNya, dan Islam, kesungguhan dalam menjalani kehidupan,sikap toleran dan memaafkan, sikap moderat terhadap orang lain dan segala sesuatu.
a.      Komitmen dengan jalan hidup islam, setiap muslim harus memiliki komitmen dengan jalan hidup islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, serta sejarah hidupnya. Sebab mencari jalan hidup dari selain dua sumber ini adalah suatu kesesatan. Jalan hidup ini adalah segala sesuatu yang dihalalkan atau diharamkan Allah. Dialah satu-satunya yang berhak menghalalkan atau mengharamkan dan apa yang dihalalkan atau diharamkan RasulNya. Komitmen dengan jalan hidup mencakup komitmen dalam aqidah,ibadah,akhlaq dan tata kehidupan sosial.
b.      Loyal kepada Allah, RasulNya, dan Islam, loyalitas ini dilakukan untuk Allah,RasulNya, manhajNya, untuk orang-orang yang shalih dan nilai-nilai akhlaq yang dibawa islam. Konsekuensinya, orang islam tidak boleh loyal kepada musuh Allah, kepada selain Allah atau musyrik. Islam mengangkat harkat orang-orang shalih dan mengokohkan kewibawaan mereka, dan mereka bersikap enggan duduk-duduk dan makan minum bersama kaum musyrikin, dan gerak mereka akan sangat terbatas. Namun orang islam tidak boleh diam dari menyerukan kebenaran dan kebaikan kepada non muslim.
c.       Kesungguhan dalam menjalani kehidupan, kesungguhanmempunyai dua pengertian , 1) bersungguh-sungguh, yakni berusaha dengan mengerahkan segala kemampuan yang ada untuk mencapai suatu tujuan dan 2) meninggalkan sendau gurau, yakni mengerjakan suatu pekerjaan dengan tidak main-main atau sia-sia. Seorang muslim dituntut melewati fase-fase kehidupannya dengan serius mengerahkan segala kemampuan dan menanggung penderitaan dan pengorbanan dijalan Allah. Jalan Allah itu luas dan bercabang-cabang, cabang yang paling rendah”menyingkirkan duri dijalan”.
d.      Sikap toleran dan memaafkan, toleransi itu sinonim dengan lemah lembut dan murah hati. Bagi kaum muslimin, toleransi berarti tidak membela idea tau mazhabnya secara membuta, tetapi mengikuti mana yang ternyata benar. Islam tidak mengajarkan sikap kasar kecuali dalam peperangan dan petempuran dijalan Allah, bahkan dalam peperangan pun ada etika yang harus dihormati seperti memperlakukan secara manusiawi terhadap tawanan atau orang yang terbunuh sebagaimana yang diatur dalam syari’at islam. Medan amal islami itu membutuhkan sikap toleran dan lemah lembut.
e.       Sikap moderat terhadap orang lain dan segala sesuatu, moderasi adalah pertengahan diantara dua sifat secara berkualitas,kuantitas, atau proporsional. Orang yang modera berarti orang yang berada diantara  dua ekstremitas. Moderasi ini sifat terpuji yang berada diantara kencang dan longgar. Allah telah menganugrahkan nikmatNya kepada umat islam dengan dijadikannya sebagai ummatan wasathan, yakni umat keadilan,pertengahan dan kebaikan. Umat islam berada ditengah sebagai umat moderat yang mengakomodir kepentingan ruhani dan kebutuhan jasadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar